Ketika Dosen Ngajak Ngopi

December 24, 2016



Saya akan membuka postingan blog ini dengan awalan yang sudah sangat mainstream.

Sudah hampir satu bulan blog ini nganggur, nggak ada isinya sama sekali. Tapi masih ada aja yang mau baca. Terakhir kali saya cek, bulan lalu pengunjungnya sekitar seribu lebih. Lumayan lah ya untuk ukuran blog yang biasa-biasa aja. 


Kali ini saya cuma pengin cerita sesuatu, tentang “hikmah” yang bisa saya petik ketika mengobrol dengan salah satu dosen di warung kopi tempo hari. Ya walaupun saya hanya ingat beberapa poin.

Poin yang paling saya ingat akan menjadi inti tulisan ini.

Mata pelajaran komunikasi lintas budaya belum selesai. Seperti biasa, pak Radit tidak pernah puas dengan keadaan kelas yang terlalu hening dan sepi. Beliau dengan sabar memasukkan satu per satu barang-barang yang dia keluarkan tadi ke dalam tas. Dengan nada bicaranya yang khas, nada yang naik turun, pak Radit melontarkan sebuah pertanyaan.

“Tempat ngopi yang enak di sekitar kampus di mana ya? Nggak tau kenapa hari ini saya ngantuk sekali.”

Sontak, akibat “umpan” yang dilontarkan pak Radit membuat “ikan-ikan” yang dalam hal ini, beberapa mahasiswa laki-laki langsung memberikan berbagai jawaban yang bertujuan untuk menunjukkan di mana tempat terbaik untuk ngopi, sampai salah satu mahasiswa yang mungkin dengan sengaja meminta untuk ikut ngopi dengan beliau.

Saya mengira pak Radit akan menolak, tapi dia mengiyakan permintaan teman saya itu. Saya yang melihat ini sebagai peluang untuk bisa “nyepik” dosenpun memutuskan untuk ikut.

Selesai jam kuliah, kami berenam, termasuk pak Radit sudah duduk manis di warung kopi dengan satu cangkir kopi di hadapan kami masing-masing. Pak Radit memesan kopi hitam, sedangkan saya hanya memesan kopi luwak instan. Maklum bukan anak kopi.

Pak Radit mulai melihat ke sekitar, matanya berhenti di salah satu meja. Di meja tersebut ada seorang laki-laki berbaju loreng, putih-kuning dengan laptop di depannya. Tiba-tiba pak Radit memberikan pertanyaan ke kami semua.

“Kalo kalian nongkrong, lebih enak mana? Sendiri atau rame-rame?”

Dari kami berenam, mayoritas menjawab lebih senang rame-rame. Mungkin cuma saya aja yang menjawab lebih enak sendiri. Istilah saya adalah “me time”. Entah kenapa, semenjak saya kuliah, saya merasa susah bergaul dengan orang. Mungkin sejak dulu, tapi semenjak kuliah saya baru merasakan itu. Karena itu saya biasanya sendiri terus, makan sendiri, nongkrong sendiri, tidur sendiri. Kalo nyuci biasanya saya laundry sih.

Kalo saya nongkrong di café, saya juga biasanya sendiri. Lebih enak aja, saya bisa mengamati keadaan sekitar, menyenangkan.

Pembicaraan ngalor ngidul ke berbagai hal sampai akhirnya topik kami ke pembahasan fenomena Bigolive. Kami semua tau apa itu bigolive kecuali pak Radit. Mendengar kisah kami tentang bigolive pak Radit cuma bisa terkejut mendengar fakta bahwa di zaman sekarang ini sangat mudah menemukan perempuan dengan belahan dada. 

Ya mungkin karena zamannya pak Radit belum ada bigolive ya makanya beliau nggak tau. Zaman dulu kalo mau ketemu perempuan atau cewek kayak gitu, harus ke Kalijodo, Doli atau Alexis? Why I know that?

Setelah mendengar tentang Bigolive, pak Radit langsung mengambil hape yang ada di depannya dan dengan cepat beliau menginstall bigolive. Yha, nggak deng. Walaupun pak Radit broadcast di Bigo paling juga nggak ada yang mau nonton. Atau paling mentok yang nonton adalah homo Thailand. Maap pak, becanda.

Selepas topik bigolive, pembicaraan terbang ke sana kemari, hingga akhirnya tiba pada topik yang sampai saat ini masih melekat dalam kepala saya.

Hujan perlahan-lahan kembali mengguyur kota Malang yang dingin, Tiba-tiba hape pak Radit mengeluarkan suara.

Ada mahasiswa yang bertanya apakah hari itu perkuliahan tetap masuk atau tidak gara-gara hujan yang deras itu.

Pak Radit mulai angkat suara.

“Saya bingung sama orang-orang, mungkin termasuk saya juga, kenapa ya kalau hujan kita anggap sebagai sebuah halangan yang sangat besar. Contohnya kayak gini sekarang. Hujan dikit udah ada yang nanya apakah masuk apa nggak, padahal kan kalo kita mau mikir banyak banget cara mengatasinya. Bisa pake jas hujan, bisa pake payung. Kalo emang nggak ada dua-duanya, yaudah ujan-ujanan aja”

“Ya, mungkin udah bawaan dari kecil pak? Setiap kali kita mau main hujan kita dilarang sama orang tua, itu mungkin yang mempengaruhi kita sampai sekarang? Saya coba menyanggah

“kayaknya nggak deh” kata pak Radit dengan cepat. Yha nggak deng. Becanda doang.

Menerima sanggahan saya dan sanggahan anak-anak yang lain, pak Radit langsung menjelaskan tentang bagaimana orang-orang di Barat sana, Eropa sana saat menghadapi hujan.

“Kalo di Eropa sana, orang-orangnya nggak ada yang pernah ingkar janji karena hujan, mungkin ada tapi jarang. Mereka nggak pernah membuat hujan sebagai alasan. Kalo emang janji jam tujuh terus hujan sebelum itu, pasti orang-orangnya akan tetap datang menepati janjinya, gimanapun caranya” kata pak Radit.

“Dulu saya dan seorang teman pernah buat acara workshop (atau seminar) di kampus, terus hujan dan nggak ada yang dateng. Kami sampai nunggu satu jam lebih. Karena nggak ada yang datang kami pergi ngopi aja.

Kami semua ketawa. Tapi sambil mikir.

Hujan lumayan reda, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore kurang 15 menit. Kami kembali ke kampus. 

Anak-anak kembali ke parkiran kampus, pak Radit kembali ke kelas untuk mengajar.

Saat perjalanan pulang, pikiran saya dipenuhi dengan pertanyaan “kenapa ya, hujan jadi halangan?”

Diskusi dengan pak Radit menyadarkan saya bahwa hujan itu nggak ada efeknya sama sekali. Mungkin kita aja yang lebay. Gerimis dikit jadi takut sakit.

Dengan diskusi itu, pikiran saya sedikit terbuka, mungkin udah bukan waktunya lagi hujan jadi alasan. Berkat diskusi itu, saya jadi sadar, udah nggak bisa buat hujan jadi alasan, hujan dikit, janji dibatain, hujan dikit, kuliah libur, hujan dikit baper.

Intinya, kalo ada hujan  yawes terjang ae wes.

Oh ya, di mata kuliah pak Radit ini, saya jadi kating. Setiap ada mahasiswa yang ngechat saya nanyain masuk apa nggak gara-gara hujan, saya selalu bales “kata pak Radit, walaupun hujan tetap masuk”

Ya walaupun sekarang saya masih sering bikin hujan jadi alasan. suatu saat saya akan meminimalisirnya, yha! 

Semoga pak Radit baca ini, atau mungkin dosen-dosen yang lain juga boleh baca tulisan ini biar bisa nongki bareng lagi, biar nggak belajar di kelas mulu. Wkwk. Siapa tau akan ada perkuliahan yang bertemakan #Ngopisession

Saya berharap saya bisa ngopi-ngopi lagi dengan pak Radit atau dosen-dosen yang lain juga entar? Amin deh.

See yaa di postingan selanjutnya. Eh ya, kalian pernah kongkow bareng dosen/guru/bos kalian nggak? Sharing dong, topik apa yang masih kalian ingat pas kongkow itu. W tunggu.


You Might Also Like

5 comments

  1. Oh gitu toh
    Trus kalo mahasiswa yg udah lulus nanyain masuk kuliah engga pas ujan, gimana bang?

    ReplyDelete
  2. Yang bayarin ngopi siapa ??? hahaha

    ReplyDelete
  3. Wah hebat tu dosen ya....bisa ngopi sama mahasiswanya. hehehe

    ReplyDelete
  4. dulu aku juga sering beini. dulu.

    ReplyDelete
  5. wkwkwk tiati bang dosennya jgn dikasih sianida ya ahaha. keren bang artikelnya , sukses yaa

    mampir jg ketulisan ini ya Karya sastra siapa tau bisa sharing" bareng. makasih

    ReplyDelete

Habis baca, jangan lupa komentar ya. Biar ada jejaknya, biar bisa blogwalking! Biar tau, siapa aja orang-orang baik yang main-main ke blog ini *slurp*